Tags

, , ,

Inflasi

Pengertian Inflasi

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, inflasi merupakan kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang yang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang. Sedangkan menurut kamus lengkap ekonomi disebutkan bahwa inflasi merupakan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung terus-menerus. Sehingga jika terjadi kenaikan harga barang (meskipun dalam persentase yang besar) hanya sekali tidak bisa dikatakan sebagai inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas atau menyebabkan kenaikan sebagian besar dari harga barang-barang lain dan kenaikan harga-harga barang tersebut tidaklah harus dengan persentase yang sama (Munthe, 2008).

Menurut Samuelson dan Nordhaus (2007), inflasi adalah tingkat perubahan secara umum.

Menurut Prasetyo (2009), inflasi secara umum dapat diartikan kenaikan harga-harga umum secara terus menerus selama satu periode tertentu. Sehingga inflasi memiliki beberapa unsur yaitu: a) inflasi merupakan proses kecenderungan kenaikan harga secara umum serta barang dan jasa secara terus menerus. b) kenaikan ini tidak terjadi terus menerus dengan persentase yang sama namun yang terpenting terdapat kenaikan harga-harga umum secara terus menerus selama periode tertentu. c) Jika kenaikan harga yang terjadi hanya bersifat sementara tetapi tidak berdampak meluas maka hal tersebut bukanlah inflasi.

Menurut Khalwati (2000), inflasi adala suatu keadaan yang mengindikasikan semakin melemahnya daya beli yang diikuti dengan merosotnya nilai riil (intrinsik) mata uang suatu negara.

Dari kutipan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa inflasi adalah suatu keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan. Inflasi sebagai suatu kenaikan harga yang terus-menerus dari barang dan jasa secara umum (bukan satu jenis barangdan dalam waktu yang singkat). Jadi, kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi.

Adanya peningkatan harga-harga produk akan menurunkan daya beli uang sehingga mengurangi pendapatan riil yang diperoleh investor dari investasinya. Selain itu inflasi juga menyebabkan meningkatkan biaya modal, biaya tenaga kerja, dan biaya bahan baku secara tidak terduga. Peningkatan biaya modal diakibatkan oleh meningkatnya tingkat bunga. Biaya tenaga kerja meningkat akibat tuntutan tenaga kerja terhadap penyesuaian terhadap inflasi. sedangkan peningkatan biaya bahan baku akibat terjadinya kenaikan harga-harga bahan baku dan barang-barang kebutuhan administrasi. Jika kenaikan biaya-biaya tersebut tidak diimbangi  oleh peningkatan harga jual produk kepada konsumen, maka perusahaan akan mengalami kerugian atau mendapat laba yang negatif (Munthe, 2008).

 Macam-Macam Inflasi

Untuk mengidentifikasi inflasi lebih lanjut, inflasi dikelompokkan menurut sebabnya, menurut asalnya dan atas dasar besarnya laju inflasi (Sugiyanto, 1994:81).

  1. Menurut penyebab inflasi
    1. 1.      Demand-pull Inflation

inflasi bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregat demand) masyarakat terlalu tinggi sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh sehingga tidak mungkin meningkatkan produksi lagi. Dalam keadaan hamper kesempatan kerja penuh, kenaikan permintaan total disamping menaikkan harga dapat juga meningkatkan jumlah produksi (output).

  1. 2.      Cost-push Inflation

Inflasi terjadi karena kenaikan harga atau biaya produksi serta turunnya produksi. Dalam gambar 2.2 menggambarkan jika biaya produksi naik dari P1 ke P2 (misalnya karena kenaikan harga sarana produksi yang didatangkan dari luar negeri atau karena kenaikan harga bahan bakar minyak), maka kurva penawaran masyarakat total (aggregate supply) akan bergeser dari S1 ke S2. Maka pada gambar 2.2, kurva permintaan (aggregate demand) akan bergeser.

  1. Menurut Asalnya
    1. Inflasi domestik

Apabila sumber-sumber penyebab inflasi, baik dari sisi permintaan maupun penawaran berasal dari dalam negeri. Misalnya kenaikan gaji pegawai, kenaikan tarif listrik, dan kenaikan harga bahan bakar.

  1. B. Inflasi dari luar negeri

Sumber penyebab inflasi dari luar negeri adalah kenaikan harga produk-produk yang diimpor.

  1. Menurut besarnya laju inflasi
    1. Inflasi merayap (creeping inflation)

Inflasi ini ditandai dengan laju inflasi yang rendah (kurang dari 10% per tahun). Kenaikan harga berjalan secara lambat, dengan persentase yang kecil serta dalam jangka waktu yang relatif lama.

  1. Inflasi menengah (galloping inflation)

Ditandai dengan kenaikan harga yang cukup besar (biasanya double atau bahkan triple digit) dan kadang kala berjalan dalam waktu yang relatif pendek.

  1. Inflasi tinggi (hyper inflation)

Merupakan inflasi yang cukup parah akibatnya. Harga-harga naik sampai 5 atau 6 kali. Biasanya keadaan ini timbul apabila pemerintah mengalami defisit anggaran belanja (misalnya ditimbulkan oleh adanya perang).

 Efek Inflasi

Inflasi dapat mempengaruhi distribusi pendapatan (equity effect), alokasi faktor produksi (efficiency effect), efek terhadap output (output effect) dan efek terhadap distribusi (distribution effect) (Sugiyanto, 2004:85).

  1. 1.      Equity Effect

Efek terhadap pendapatan sifatnya tidak merata, ada yang dirugikan tetapi ada pula yang mendapat keuntungan dengan adanya inflasi. seseorang yang memperoleh pendapatan tetap dan yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang akan memperoleh kerugian karena adanya inflasi. Sebaliknya, pihak-pihak yang memperoleh keuntungan adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan persentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan uang dimana nilainya naik dengan persentase yang lebih besar dari laju inflasi. dengan demikian inflasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola pembagian pendapatan dan kekayaan masyarakat (Sugiyanto, 2004:85)..

  1. 2.      Efficiency Effect

Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya inflasi permintaan akan barang tertentu, akan terjadi kenaikan yang lebih besar dari barang lain yang kemudian akan mendorong terjadinya kenaikan produksi barang tertentu (Sugiyanto, 2004:85)..

  1. 3.      Output Effect

Inflasi mungkin dapat menyebabkan terjadinya kenaikan produksi. Alasannya, biasanya kenaikan harga barang mendahului kenaikan upah sehinga keuntungan perusahaan naik. Keuntungan perusahaan ini yang mendorong kenaikan produksi. Namun apabila laju inflasi cukup tinggi (hyper inflation) dapat mengakibatkan penurunan output. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang turun dengan drastis, masyarakat  cenderung tidak mempunyai uang kas, transaksi mengarah ke barter yang biasanya diikuti dengan penurunan produksi barang (Sugiyanto, 2004:85)..

  1. 4.      Distribution Effect

Inflasi yang disebabkan oleh naiknya permintaan melebihi penawaran akan menyebabkan redistribusi produk, dari mereka yang lemah daya belinya kepada yang kuat. Apabila harga naik, maka daya beli masyarakat akan turun. Meskipun demikian, ada sekellompok masyarakat yang mampu menaikkan daya belinya melalui kredit perbankan, kenaikan penghasilan, maupun pencetakan uang baru (khusus bagi pemerintah). Dengan adanya inflasi, kelompok yang lemah tidak mampu membeli produk yang mereka butuhkan dan mereka yang kuat akan membeli sisa lebih produk-produk tersebut.

 Menurut Sukirno (2002) menyatakan bahwa inflasi memiliki dampak buruk yang terbagi menjadi 2 aspek yaitu akibat buruknya kepada perekonomian dan akibatnya kepada individu-individu dan masyarakat.

Akibat buruk kepada perekonomian.

Dampak buruk atau negatif inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi disebabkan beberapa faktor penting yaitu.

1. Inflasi  menggalakkan penanaman modal spekulatif

saat terjadi inflasi pemilik modal lebih memilih berinvestasi pada investasi yang bersifat spekulatif seperti membeli rumah, tanah dan menyimpan barang berharga karena akan lebih menguntungakan daripada melakukan investasi yang produktif.

2. Tingkat bunga meningkat dan akan mengurangi investasi

untuk menghindari kemerosotan nilai modal yang dipinjam, institusi keuangan akan menaikkan tingkat bunga pinjaman mereka. Makin tinggi inflasi maka makin tinggi pula tingkat bunga. Tingkat bunga yagn tinggi akan mengurangi keinginan investor untuk mengembangkan sektor produktif.

3. Inflasi menimbulkan ketidakpastian mengenai keadaan ekonomi

Pada akhirnya inflasi akan menimbulkan ketidakpastian dan arah perkembangan ekonomi tidak dapat diramalkan dengan baik sehingga mengurangi pengusaha untuk mengembangkan kegiatan ekonomi.

4. Menimbulkan masalah neraca pembayaran.

Inflasi menyeabkan harga barang impor lebih murah sehingga menyebabkan impor berkembang lebih cepat tetapi perkembangan ekspor menjadi lambat. Hal ini akan membuat aliran modal keluar negeri akan lebih banyak daripada yang masuk ke dalam negeri.

Akibat buruk atas individu-individu dan masyarakat.

Dampak buruk atas individu-individu dan masyarakat dapat dibedakan menjadi tiga aspek yaitu.

1. Memperburuk distribusi pendapatan.

Saat terjadi inflasi nilai harta tetap akan mengalami kenaikan harga yang adakalanya terjadi lebih cepat dari kenaikan inflasi itu sendiri. Sebaliknya bagi penduduk yagn tidak memiliki harta tetap dan berpendapatan rendah akan mengalami penurunan pada pendapatan riilnya.

2. Pendapatan riil merosot.

Dalam masa inflasi kenaikkan harga-harga mendahului kenaikan pendapatan. Sehingga inflasi cenderung menimbulkan penurunan pendapatan riil sebagian tenaga kerja.

3. Nilai riil tabungan merosot.

Pada umumnya sebagian besar masyarakat menyimpan kekayaannya dalam bentuk deposito dan tabungan. Saat terjadi inflasi riil tabungan akan mengalami penurunan. Serta pemegang uang tunai akan dirugikan karena merosotnya nilai riilnya

 Cara Penanggulangan Inflasi

1        Kebijaksanaan Moneter

Bisa dilakukan dengan cara penetapan cadangan minimum, tingkat diskonto (discount rate), dan operasi pasar terbuka (open market operation) (Rosnawati,2008).

  1. Penetapan Cadangan Minimum (Reserve Requirements)
  2. Tingkat Diskonto (Discount Rate)
  3. Politik Pasar Terbuka (Open Market Operation)

 2        Kebijaksanaan Fiskal

  1. Penurunan Pengeluaran Pemerintah
  2. Menaikkan Pajak

 3        Kebijaksanaan Non Moneter

  1. Menaikkan Jumlah Hasil Produksi
  2. Kebijaksanaan Upah
  3. Pengawasan Harga dan Distribusi Barang-Barang

Metode Perhitungan Inflasi

menurut Prasetyo (2009), inflasi dapat diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut yaitu.

  1. Indeks Harga Konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI) adalah indeks yagn mengukur rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
  2. Indeks Biaya Hidup atau Cost of Living Index (COLI) merupakan indeks untuk mengetahui perkembangan biaya hidup suatu masyarakat pada umumnya.
  3. Indeks Harga Produsen (IHP) adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan  harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
  4. Indeks Harga Komoditas, adalah indeks yang mengukur harga komoditas-komoditas tertentu.
  5. Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi dan jasa.

Sumber:

Munthe, Kornel. 2008. “Pengaruh Struktur Kepemilikan, Makroekonomi, dan Kinerja Perusahaan Terhadap Kesulitan Keuangan Perusahaan”. Medika Unika. Tahun 2008 No. 73 Edisi ke-4.

Sukirno, Sadono. 2003. Makroekonomi Teori Pengantar. Edisi Ketiga. Rajawali Pers. Jakarta.

Sugiyanto, Catur. 1994. Ekonomi, Uang dan Bank (SERI DIKTAT KULIAH). Universitas Gunadarma.Jakarta.