Tags

, , , ,

Pengertian Studi Kelayakan
Menurut Suad Husnan dan Suwarsono (2002,4) Studi Kelayakan Proyek adalah “Penelitian tentang dapat atau tidaknya suatu proyek investasi dilaksanakan dengan berhasil. Pengertian ini bias ditafsirkan agak berbeda-beda. Ada yang menafsirkan dalam artian yang terbatas, terutama dipergunakan oleh pihak swasta yang lebih berminat tentang manfaat ekonomis suatu investasi.

Sedangkan dari pihak pemerintah, atau lembaga non profit, pengertian menguntungkan bisa dalam arti yang lebih relatif. Mungkin dipertimbangkan berbagai faktor seperti manfaat bagi masyarakat luas bisa berwujud penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan sumber daya yang melimpah ditempat tersebut dan sebagainya”.

Jadi studi kelayakan dapat diterjemahkan sebagai berikut adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu investasi dapat dilaksanakan dengan berhasil. Keberhasilan bisa diartikan lebih luas atau lebih terbatas yang terutama dipergunakan oleh pihak swasta yang lebih berminat tentang manfaat ekonomis suatu investasi.

Investasi yang diteliti bisa berbentuk investasi berskala besar sampai dengan investasi yang sederhana. Tentu saja semakin besar investasi yang akan dijalankan, semakin luas dampak yang terjadi. Semakin sederhana investasi yang akan dilaksanakan semakin sederhana pula lingkungan penelitian yang akan dilakukan. Dampak itu bisa berupa dampak ekonomis dan bisa juga besifat sosial. Dengan demikian, pada umumnya suatu studi kelayakan investasi akan menyangkut tiga aspek, Yaitu :
1.Manfaat ekonomis proyek tersebut bagi proyek itu sendiri (sering juga disebut
manfaat financial). Yang berarti apakah proyek itu cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan resiko proyek tersebut.
2.Manfaat proyek tersebut bagi Negara tempat proyek itu dilaksanakan (sering juga disebut manfaat nasional).
3.Manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat sekitar proyek tersebut.
Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan investasi, diantaranya adalah penyerapan tenaga kerja, peningkatan output yang dihasilkan, kalau kegiatan investasi meningkat maka kegiatan ekonomipun ikut terpacu pula, dan disini kita menggunakan pengertian proyek investasi sebagai suatu rencana untuk menginvestasikan sumber-sumber daya yang bisa dinilai secara cukup independent.

Dipandang dari sudut perusahaan, maka proyek atau kegiatan yang menyangkut pengluaran modal (capital expenditure) mempunyai arti yang sangat penting karena: Yang pertama yaitu, Pengeluaran modal yang mempunyai konsekuensi jangka panjang, yang kedua Pengeluaran modal yang umumnya menyangkut jumlah yang sangat besar.

Adapun tujuan dilakukan studi kelayakan adalah untuk menghindari keterlanjuran penanaman modal yang besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Tentunya studi kelayakan ini akan memakan biaya, tapi biaya tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan resiko kegagalan.
Menurut Siswanto Sutojo ( 2002, 7 ) hal-hal yang perlu diketahui dalam studi kelayakan adalah:
1.Ruang lingkup kegiatan proyek.
Disini perlu dijelaskan bidang-bidang apa proyek akan beroperasi.
2.Cara kegiatan proyek dilakukan.
Dalam hal ini apakah proyek akan ditangani sendiri, ataukah akan diserahkan pada pihak lain. Siapa yang akan menangani proyek tersebut?
3.Evalusi terhadap aspek-aspek yang akan menentukan berhasilnya seluruh proyek
4.Sarana yang diperlukan oleh proyek
Bukan hanya menyangkut kebutuhan saja tetapi juga fasilitas-fasilitas.
5.Hasil kegiatan proyek tersebut, serta biaya-biaya yang harus ditanggung untuk
memperoleh hasil tersebut.
6.Langkah-langkah untuk mendirikan proyek atau memperluas proyek, beserta jadwal masing-masing proyek.

Penilaian terhadap keadaan dan prospek suatu proyek investasi dilakukan atas dasar kriteria tertentu yang antaranya yaitu manfaat proyek bagi Negara dan masyarakat luas. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi intensitas studi kelayakan, seperti : Jumlah dana, ketidakpastian proyek, dan kompleksitas proyek tersebut. Semakin besar dana yang tertanam, semakin tidak pasti taksiran yang
dibuat, semakin komplek faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan semakin mendalam studi yang dilakukan.

Kalau kita amati pembuatan studi kelayakan sering memenuhi permintaan pihak-pihak yang berbeda. Masing-masing pihak mempunyai kepentingan serta sudut pandang yang berbeda. Lembaga yang memerlukan studi kelayakan seperti : Investor adalah pihak yang menanamkan dana mereka dalam suatu proyek (sebagai pemilik perusahaan), pihak kreditur, pihak pemerintah yaitu
berkepentingan dengan manfaat proyek tersebut dari segi perekonomian nasional. Maka dari itu dalam studi kelayakan banyak aspek-aspek yang mempengaruhi terlaksananya tujuan dari studi kelayakan ini.

2.2. Aspek-Aspek yang Dikaji Dalam Studi Kelayakan.
Menurut Husein Umar (2003,24), belum ada keseragaman mengenai aspek-aspek bisnis apa saja yang harus dikaji dalam rangka studi kelayakan bisnis. Dalam proses analisis setiap aspek saling berketerkaitan antara satu aspek dengan aspek yang lainya. Mengacu kepada konsep bisnis terdahulu aspek yang perlu diteliti adalah sebagai berikut :

2.2.1 Aspek Pasar
Peranan aspek pasar dalam pendirian maupun perluasan usaha pada studi kelayakan proyek maupun studi kelayakan bisnis merupakan variabel pertama atau yang utama untuk mendapatkan perhatian. Terdapat dua masalah utama dalam aspek pasar pengukuran pasar potensial saat sekarang dan pada saat yang akan datang, pengertian dari pasar potensial adalah keseluruhan jumlah produk atau sekelompok produk yang mungkin dapat dijual dalam pasar tertentu dalam priode tertentu. Adapun karakteristik yang harus diperhatikan dalam aspek pasar yaitu seperti :
a.Permintaan, baik secara total maupun diperinci menurut daerah, jenis konsumen. Dalam hal ini pengukuran dan peramalan permintaan merupakan pokok utama dalam aspek pasar, tujuan dari peramalan dan pengukuran permintaan tersebut adalah usaha untuk mengurangi terjadinya hal yang berlawanan antara keadaan yang sungguh-sungguh dengan apa yang menjadi hasil peramalan. Disini juga perlu diperkirakan tentang proyeksi permintaan tersebut.
b.Penawaran, diartikan sebagai berbagai kuantitas barang yang ditawarkan dipasar pada berbagai tingkat harga. Penawaran yang timbul baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Bagaimana perkembangan dimasa lalu dan bagaimana perkiraan dimasa yang akan datang. Adapun Faktor yang mempengaruhi penawaran ini seperti, harga barang-barang lain, biaya factor produksi, tujuan perusahaan dan tingkat teknologi.
c.Harga, dilakukan perbandingan dengan barang-barang import dalam negeri lainnya.
d.Program pemasaran, mencakup strategi yang digunakan untuk mencapai market share yang telah ditetapkan dan untuk keperluan ini perlu diperhatikan kedudukan produk, dan segmen pasar yang direncanakan.
e.Perkiraan penjualan yang akan dicapai perusahaan, market share yang bisa dikuasai perusahaan.

2.2.2 Aspek Teknis dan Produksi
Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya, pelaksanaan aspek teknis dilakukan setelah evaluasi aspek pasar yang menunjukan adanya kesempatan pemasaran yang memadai untuk jangka waktu yang relatif panjang.
Disamping itu aspek teknis menyangkut berbagai pertanyaan penting tentang : Apakah studi dalam pengujian terlebih dahulu pernah dilakukan, dan Apakah skala produksi yang dipilih sudah optimal ? serta bagaimana dengan pemilihan lokasi perusahaan tersebut.

2.2.3 Aspek Manajemen
Manajemen berfungsi untuk aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Dalam menyusun suatu rencana hendaknya dapat dikaji dari beberapa sisi, seperti sisi pendekatan pembuatan perencanaan, sisi fungsi perencanaan, sisi jangka waktu pelaksanaan, setelah itu buatlah suatu rekomendasinya. Disamping itu aspek manajemen bisa menyangkut tentang :
a.Manajemen dalam masa pembangunan proyek, siapa pelaksana proyek tersebut ?
b.Manajemen dalam operasi, bentuk organisasi/badan usaha yang dipilih. Struktur organisasi, jumlah tenaga kerja yang akan digunakan.

2.2.4 Aspek Hukum / Aspek Yuridis :
Untuk menganalisa siapa pelaksanaan bisnis, tentunya hal ini menyangkut pada badan usahanya dan orang-orang atau individu yang terlibat.
1.Bentuk badan usaha yang akan digunakan.
Beberapa bentuk perusahaan di Indonesia, dari segi yuridisnya ada :
a.Perusahaan perseorangan : jenis usaha ini merupakan perusahaan yang diawasi dan dikelola oleh seorang.
b.Firma : suatu bentuk perkumpulan usaha yang didirikan oleh beberapa orang dengan menggunakan nama bersama.
c.Perseroaan Comanditer (CV) : merupakan suatu persekutuan yang didirikan oleh beberapa orang yang masing-masing menyerahkan sejumlah uang dalam jumlah yang tidak perlu sama.
d.Perusahaan Negara dimana usaha yang modalnya secara keseluruhan dari Negara.
e.Koperasi : badan usaha yang bergerak dalam bidak ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahtraan anggotanya :
2.Jaminan yang bisa disediakan kalau akan menggunakan dana pinjaman.
3.Berbagai akta, sertifikat izin yang akan digunakan.

2.2.5 Aspek Ekonomi dan Sosial
Pengaruh Investasi tersebut terhadap peningkatan penghasilan Negara. Sudah jelas bahwa dengan bertumbuhnya bisnis dalam negeri akan menambah pendapatan Negara misalnya dengan bertambahnya produksi dalam negeri maka pendapatan seperti pajak, pembayaran listrik, pembayaran telepon akan meningkat.
Sedangkan disisi lain juga dapat memberikan penambahan kesempatan kerja. Dalam hal ini bahwa proyek mampu meningkatkan kesempatan tenaga kerja dan sekaligus ikut serta dalam pemerataan tenaga kerja di negri. Bagaimana pengaruh investasi tersebut terhadap industri lain. Dengan adanya proyek atau bisnis baru diharapkan tumbuh industri lain baik yang sejenis maupun industry pendukung, bisa juga industri sebagai dampak positif adanya kegiatan bisnis di
daerah tersebut.
Sedangkan dari segi Aspek bersifat sosial Investasi bisnis hendaknya dapat berpengaruh positif pada masarakat sekitar, tidak hanya berdampak pada peningkatan atau semakin baiknya kondisi lingkungan seperti, jalan listrik, jembatan, dan lain-lain.

2.2.6 Aspek Keuangan
Dalam pembahasan studi kelayakan ini aspek keuangan adalah merupakan suatu aspek yang sangat menentukan berjalannya invetasi yang akan dilakukan. Karena aspek keuangan dapat menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan cara membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan untuk membayar kembali investasi yang telah dilakukan dalam waktu yang telah
ditentukan, serta dapat menilai apakah investasi tersebut berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Aspek keuangan juga dapat dikatakan sebagai dasar terlaksana atau tidaknya suatu investasi yang diinginkan. Maka dari itu dalam menilai investasi harus benar-benar memperhatikan dana yang tersedia apakah dapat digunakan secara maksimal demi mencapai tujuan dari perusahaan. Dalam aspek keuangan ini juga membicarakan bagaimana memperkirakan kebutuhan dana yang digunakan untuk aktiva tetap maupun untuk modal kerja.

2.3. Alat Analisis
Metode Penilain Investasi dalam Aktiva Tetap
Ada berbagai macam metode penilaian investasi dalam aktiva tetap namun penulis hanya akan membahas 4 metode penilaian usulan investasi yang berdasarkan pada aliran kas yaitu sebagai berikut :

2.3.1 Payback Period
Definisi payback period banyak dikemukakan oleh para ahli. Definisi-definisi dari para ahli tersebut antara lain:
Menurut Husein Umar (2003,197), suatu period yang diperlukan kembali untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain payback period merupakan rasio antara initial cash investment dengan cash inflownya apabila aliran kas setiap tahun sama jumlahnya, maka payback priod dari suatu investasi dapat dihitung dengan cara membagi jumlah investasi dengan aliran kas tahunan.

Payback periode = jumlah investasi / jumlah proceed tahunan

Apabila Aliran kas suatu investasi tidak sama besarnya dari tahun ketahun, dengan sendirinya perhitungan diatas tidak memungkinkan . Oleh karena itu kita perlu menghitung aliran kas dari tahun ketahun, sehingga keseluruhan investasi dapat diperoleh kembali. Setelah payback period dapat dihitung, maka tahapan berikutnya adalah membandingkan payback period dengan waktu investasi yang diusulkan dengan maksimum payback period yang diterima. Apabila payback period dari investasi yang diusulkan lebih pendek dari payback period maksimum, maka usul investasi
tersebut dapat diterima.
Metode payback period ini sangat sederhana dan mudah perhitungannya , Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan tetapi dilain pihak metode ini mempunyai kelemahan-kelamahan prinsipil sebagai berikut:
a. Metode ini mengabaikan penerimaan-penerimaan investasi atau aliran kas sesudah payback period tercapai, oleh karenannya kriteria tersebut bukan sebagai alat ukur “Probability” tetapi alat pengukur “Rapidity” alat kecepatan kembalinya dana. Maka dasar yang digunakan adalah aliran kas , bukan laba.
b. Metode ini juga mengabaikan Time Value of Money ( Nilai waktu sekarang ) Meskipun diakui adanya kelemahan-kelemahan ini, dalam prakteknya masih banyak organisasi atau perusahaan yang menggunakan Metode Payback Period sebagai pelengkap penilaian investasi. Cara ini terutama dipergunakan untuk perusahaan-perusahaan yang menghadapi problem likuiditas atau kelancaran keuangan jangka pendek.

2.3.2 Net Present Value
Terdapat beberapa pengertian dalam Metode Net Present Value yaitu sebagai berikut :
Menurut Syafaruddin Alwi (2001,163)
“Net Present Value” merupakan model yang memperhitungkan pola cash flows keseluruhan dari suatu investasi, dalam kaitannya dengan waktu, berdasarkan Discount Rate tertentu.

Menurut Chaerul D.Djakman (2000,311)
“Nilai Bersih Sekarang” sebuah proposal investasi sama dengan nilai bersih sekarang arus kas tahunan setelah pajak dikurangi dengan pengeluaran awal investasi.

Menurut Bambang Riyanto (2001,126)
“Present Value” menunjukan beberapa nilai uang pada saat ini untuk nilai tertentu dimasa yang akan datang. Rumus dalam Metode Net Present Value adalah :

Net Present Value = PV Proceed – PV Outlay

Dengan adanya kelemahan-kelemahan dari penggunaan Metode Payback Period, maka dipakailah Metode Net Present Value yang memperhatikan baik Aliran kas sesudah tercapainya Payback Period maupun “Time Value of Value”.
Karena metode ini memperhatikan Nilai Waktu dari Uang maka Aliran kas yang digunakan dalam menghitung Net Present Value adalah aliran kas yang didiskontokan atas dasar biaya modal atau “Rate of Return” yang diinginkan. Dalam metode ini pertama-tama yang dihitung adalah nilai sekarang (Present Value) dari Proceed yang diharapkan atas dasar “Discount Rate” tertentu.
Kemudian jumlah Present Value dari keseluruhan Aliran Kas selama usianya
dikurangi dengan Present Value Dari jumlah investasinya (Inicial Investment). Selisih antara nilai sekarang dari nilai keseluruhan aliran kas dengan nilai sekarang pengeluaran modal (Capital
Outlay atau Inicial Investment) dinamakan Nilai sekarang netto” Apabila jumlah nilai sekarang dari keseluruhan aliran kas yang diharapkan lebih besar dari nilai sekarang dari investasinya maka usulan tersebut diterima, Apabila aliran kas setiap tahun sama besarnya maka Net Present Value dapat dihitung dengan mudah, dengan bantuan tabel nilai sekarang annuity.
Agar penilaian aktiva lebih akurat kadang-kadang Net Present Value ini mengubah hasilnya kedalam “ Profitability Index ” atau “Desirability Index” dengan cara membagi nilai sekarang dari proceed dengan nilai sekarang dari “Outlays” Apabila Hasil perbandingan tersebut menentukan Profitability Index lebih besar dari 1 (satu) maka usul investasi tersebut dapat diterima. Sebaliknya bila kurang dari satu investasi tersebut seharusnya ditolak.

2.3.3 Profitability Indeks atau Indeks Keuntungan
Definisi dari Profitability Index menurut beberapa ahli. Definisi-definisi dari para ahli tersebut antara lain :

Menurut Chaerul D.Djakman (2000,312)
“Indeks keuntungan atau biaya adalah rasio nilai sekarang dari arus kas bersih pada masa depan terhadap pengeluaran awalnya” Kriteria nilai bersih sekarang investasi memberikan ukuran kelayakan proyek dalam nilai uang yang absolut, maka indeks keuntungan memberikan ukuran relatif dari keutungan bersih masa depannya terhadap biaya awal.

Menurut Bambang Riyanto (2001,126), rumus yang digunakan dalam Profitability Indeks adalah :

Profitability Indeks = PV Proceed / PV Outlays

Menurut Chaerul D.Djakman (2000,313), kriteria keputusan dengan menggunakan indeks keuntungan dalah menerima proyek jika Profitability Index lebih besar atau sama dengan 1,00 dan menolak proyek jika Profitability Index kurang dari 1,00

Profitability Index (PI) > 1,0 : Terima
Profitability Index (PI) < 1,0 : Tolak

Kelemahan dan keuntungan dalam Profitability Index yaitu:
Keuntungan :
– Menggunakan arus kas
– Memakai nilai waktu luang
– Konsisten dengan tujuan perusahaan memaksimumkan kekayaan pemegang saham
Kelemahan :
– Membutuhkan peramalan jangka panjang yang detail mengenai pertambahan keuntungan dan biaya.

2.3.4 Internal Rate of Return
Devinisi dari IRR menurut beberapa ahli. Definisi-definisi dari para ahli tersebut antara lain :
Menurut Syafaruddin Alwi (2001,173)
“Prinsip dari konsep IRR adalah bagaimana menentukan discount rate yang dapat mempersamakan Present Value of Proceed dengan Outlay”.

Menurut Bambang Riyanto (2001,129)
“Tingkat bunga yang akan menjadi jumlah nilai sekarang dari proceed yang diharapkan akan diterima ( PV of Future Proceed) sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal ( PV of Capital Outlays)”.

Menurut Chaerul D.Djakman (2000,173)
“Teknik anggaran modal yang mencerminkan tingkat pengendalian yang menyeimbangkan nilai masukan sekarang dengan keluaran sekarang”.
Pada dasarnya Internal Rate of Return harus dicari dengan cara “Trial and Error”, pertama kita menghitung nilai sekarang dari aliran kas dari suatu investasi dengan menggunakan tingkat bunga yang kita pilih menurut kehendak kita. Kemudian dari hasil hitungan itu dibandingkan dengan jumlah nilai sekarang dari outlaynya. Kalau kita sekarang dari Proceed lebih besar dari nilai sekarang dari Investasi atau Outlaynya, kita harus mengunakan tingkat bunga yang lebih tinggi lagi. sebaliknya kalau kita sekarang dari Proceed lebih kecil dari jumlah nilai sekarang outlaynya kita harus menggunakan tingkat bunga yang lebih rendah. Cara demikian terus kita lakukan sampai kita menemukan tingkat bunga yang bisa dijadikan nilai sekarang dari Outlay-nya. Pada tingkat bunga tersebut menggambarkan besarnya Internal Rate of Return dari usul investasi tersebut,
cara ini dinamakan interpolasi.

Dimana ;
r = Internal Rate of Return yang dicari
P1 = Tingkat bunga ke- 1
P2 = Tingkat bunga ke- 2
C1 = NPV ke- 1
C2 = NPV ke- 2